Terapi puzzle untuk meningkatkan fungsi kognitif dan motorik pada lansia (Terapi Aktivitas Kelompok)
DOI: https://doi.org/10.56922/phc.v6i4.3198
Fungsi kognitif Fungsi motorik Lansia Permainan puzzle Terapi non-farmakologi
Abstract
Background: The aging process causes a decline in physical, cognitive, and psychosocial function in the elderly. Cognitive and motor decline are common problems and can impact the quality of life of the elderly. One non-pharmacological intervention that can be implemented is group activity therapy using the puzzle method.
Purpose: To improve the cognitive and motor function of the elderly through puzzle therapy.
Method: This community service activity was conducted on April 15, 2026, at Wisma Jeruk, Budi Mulia 2 Social Welfare Home, with seven elderly participants. The activity involved providing instructions and demonstrating how to play a puzzle game, which consists of a picture divided into pieces, dismantling and reassembling the puzzle within a specified timeframe. The puzzle game included material presentation, demonstrations, and hands-on practice. Evaluation was conducted through observation of the elderly's engagement, responses, and ability to solve the puzzle.
Results: Showed improved cognitive function and memory, meaning the elderly were better able to recall previously learned instructions, patterns, or shapes. They were able to focus and concentrate on completing the game without being easily distracted or confused. This also demonstrated improved motor and visual development and physical coordination, with improvements in fine motor skills, as evidenced by the ease of holding, rotating, and placing puzzle pieces. The elderly were quicker to recognize shapes and colors and fit puzzle pieces into the appropriate spaces. Psychosocial and emotional aspects showed a decrease in stress and anxiety: the elderly appeared calmer and more relaxed, with reduced anxiety levels, increased self-confidence, and became more active in communicating, patiently waiting their turn, and able to socialize with other players.
Conclusion: Group activity therapy with puzzle games is effective in improving cognitive and fine motor function in the elderly, particularly in hand-eye coordination. The elderly became more skilled in performing activities requiring precision and fine movements. From a psychosocial perspective, this activity can improve social interaction, reduce loneliness, and foster self-confidence and feelings of happiness in the elderly.
Suggestion: It is hoped that puzzle therapy can become a routine activity for the elderly, as it has been proven to be beneficial in improving cognitive function, motor skills, and social interaction. Healthcare workers and nurses are also encouraged to develop other innovative group activity therapies and adapt the difficulty level of the activities to the elderly's condition to optimize therapy.
Keywords: Cognitive function; Elderly; Motor function; Non-pharmacological therapy; Puzzle games
Pendahuluan: Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi fisik, kognitif, dan psikososial pada lansia. Penurunan fungsi kognitif dan motorik merupakan masalah yang sering terjadi dan dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah terapi aktivitas kelompok dengan metode puzzle.
Tujuan: Meningkatkan fungsi kognitif dan motorik lansia melalui terapi permainan puzzle.
Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 15 April 2026 di Wisma Jeruk, Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 dengan jumlah peserta sebanyak 7 lansia. Kegiatan dilaksanakan dengan memberikan petunjuk dan demonstrasi tatacara bermain puzzle yang berupa suatu gambar yang dibagi menjadi potongan-potongan dengan membongkar dan merangkai kembali dalam waktu tertentu. Permainan puzzle meliputi pemberian materi, demonstrasi, dan praktik langsung. Evaluasi dilakukan melalui observasi terhadap keterlibatan, respon, dan kemampuan lansia dalam menyelesaikan puzzle.
Hasil: menunjukkan peningkatan fungsi kognitif dan daya ingat yaitu lansia lebih mampu mengingat instruksi, pola, atau bentuk potongan gambar yang telah dipelajari sebelumnya.lansia dapat fokus dan berkonsentrasi dalam menyelesaikan permainan tanpa mudah terdistraksi atau merasa kebingungan. Menunjukkan peningkatan perkembangan motorik dan visualkoordinasi fisik yaitu terjadi peningkatan keterampilan motorik halus, yang terlihat dari kemudahan memegang, memutar, dan menempatkan potongan-potongan puzzle, lansia lebih cepat mengenali bentuk, warna, dan menyesuaikan kepingan teka-teki dengan ruang kosong yang sesuai. Sedangkan aspek psikososial dan emosional menunjukkan penurunan stres atau kecemasan: yaitu lansia terlihat lebih tenang, rileks, tingkat kecemasannya berkurang, rasa percaya diri, lansia menjadi lebih aktif berkomunikasi, sabar menunggu giliran, dan mampu bersosialisasi dengan sesama pemain.
Simpulan: Terapi aktivitas kelompok dengan permainan puzzle efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif dan motorik halus pada lansia terutama dalam koordinasi tangan dan mata. Lansia menjadi lebih terampil dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan ketelitian dan gerakan halus. Dari aspek psikososial, kegiatan ini mampu meningkatkan interaksi sosial, mengurangi rasa kesepian, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan senang pada lansia.
Saran: Diharapkan terapi puzzle dapat dijadikan sebagai kegiatan rutin bagi lansia karena terbukti bermanfaat dalam meningkatkan fungsi kognitif, motorik, dan interaksi sosial. Bagi tenaga kesehatan atau perawat diharapkan juga dapat mengembangkan terapi aktivitas kelompok lainnya yang inovatif dan menyesuaikan tingkat kesulitan kegiatan dengan kondisi lansia agar terapi dapat berjalan lebih optimal.
Downloads
References
Badan Pusat Statistik. (2021). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020. Diakses dari: https://www.bps.go.id/id/publication/2020/12/21/0fc023221965624a644c1111/statistik-penduduk-lanjut-usia-2020.html.
Damanik, S. M. (2019). Modul bahan ajar keperawatan gerontik.
Damayanti, F. E., Izzah, U., & Artini, N. P. D. (2023). Pengaruh Terapi Bermain Puzzle terhadap Lansia dengan Demensia. Nursing Information Journal, 2(2), 57-61.
Dayuningsih, D., Muftadi, M., Anisah, N., Herdalisa, W., Rois, A., Listyorini, M. W., & Zuliani, P. (2025). Fungsi Kognitif pada Lansia dengan Pemberian Terapi Puzzle PSTW X. MAHESA: Malahayati Health Student Journal, 5(2), 454-
Erwanto, R., & Kurniasih, D. E. (2020). The effectiveness of puzzle therapy on cognitive functions among elderly with dementia at Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Yogyakarta, Indonesia. Dementia, 13(29.5), 7.
Hermawati, E., & Permana, I. (2020). Manfaat terapi reminiscence dalam mengatasi depresi pada lansia. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(1), 41.
Istiqomah, A. (2025). Pengaruh Puzzle Therapy Terhadap Kemampuan Kognitif Pada Lansia (Di UPT Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Jombang) (Doctoral dissertation, ITSKes Insan Cendekia Medika Jombang).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2020. Diakses dari: https://kemkes.go.id/app_asset/file_content _download/Profil-Kesehatan-Indonesia-2020.pdf.
Martina, S. E., Sinaga, J., Gultom, R., Zalukhu, C. S., & Tampubolon, G. F. Z. (2025). Penerapan Terapi Puzzle dalam Peningkatan Fungsi Kognitif pada Lansia dengan Demensia. Journal of Applied Community Service and Innovation, 1(02), 58-64.
Matrisciano, C., Minino, R., Mariani, A. M., & D’Anna, C. (2025). The effect of physical activity on executive functions in the elderly population: A systematic review of randomized controlled trials. Brain Sciences, 15(7), 703.
Noer, R. M., Matahati, S., Hendriko, A., Rezky, M. C., & Ignassia, M. (2024). Pemberdayaan lansia dalam peningkatan fungsi kognitif lansia melalui focus group discussion dan terapi jigsaw puzzle. Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat, 1(2),
Pragholapati, A., Ardiana, F., & Nurlianawati, L. (2021). Gambaran fungsi kognitif pada lanjut usia (lansia). Jurnal Mutiara Ners, 4(1), 14-23.
Prahasasgita, M. S., & Lestari, M. D. (2023). Stimulasi Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia Di Indonesia: Tinjauan Literatur. Buletin Psikologi, 31(2), 247-264.
Septiarini, N. L. A. (2024). Pengaruh Cognitive Stimulation Therapy Puzzle Terhadap Peningkatan Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia: The Effect of Cognitive Stimulation Therapy Puzzle on Improving Cognitive Function in Elderly. Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia, 1(1), 30-37.
Shinta, S. (2025). Terapi Reminiscence. CV Eureka Media Aksara.
Simanullang, D. R. (2024). Penerapan Terapi Puzzle Untuk Meningkatkan Fungsi Kognitif Pada Lansia (Doctoral dissertation, Universitas Katolik Musi Charitas).
Sumarsih, G. (2023). Dukungan keluarga dan senam otak untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia. CV. Mitra Edukasi Negeri.
Susanti, A., Ahnafani, M. N., Rahman, S., & Anshori, M. (2024). Terapi Modalitas Bermain Puzzle Pada Lansia Di Wisma Kenanga Panti Perlindungan Dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Budi Sejahtera Banjarbaru. Majalah Cendekia Mengabdi, 2(4), 221-226.
Wahyuningsih, T., & Aryanti, D. (2024). Terapi Bermain Puzzle untuk Meningkatkan Fungsi Kognitif Lansia. Diakses dari: http://forikes-ejournal.com/index.php/SF/article/view/sf15305/15305
World Health Organization. (2025). Ageing and health. Keyfacts. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ageing-and-health.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JOURNAL of Public Health Concerns

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.








