Penyuluhan kesehatan kekurangan energi kronik dan tinggi badan ibu terhadap kejadian stunting pada balita

DOI: https://doi.org/10.56922/phc.v1i4.160

Authors

  • Andri Yulianto Universitas Muhammadiyah Pringsewu
  • Resi Hana Puskesmas Kota Dalam

Kekurangan Energi Kronik Tinggi Badan Ibu Stunting Balita

Abstract

Faktor yang mempengaruhi stunting menurut WHO tahun 2013 salah satunya faktor keluarga yaitu faktor ibu kekurangan nutrisi (saat sebelum hamil, hamil dan menyusui, masa menyusui),  status tinggi badan ibu, kehamilan remaja, infeksi, bayi lahir (IUGR dan Premature), bayi  pendek/BBLR dan Hipertensi. (Lamid, 2015). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan KEK dan tinggi badan ibu terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja UPT Puskesmas Kota Dalam Kabupaten Pesawaran tahun 2019. Desain penelitian menggunakan survey case control.. Subjek penelitian ini adalah orang tua yang memiliki balita yang tercatat dilaporan Gizi dan KIA dengan populasi sebanyak terdapat 4.310 bayi balita usia 8 – 59  bulan yang diukur antropometri dengan angka stunting sebanyak 256 bayi balita usia 8 – 59  bulan dan sampel sebanyak didapatkan 172 bayi balita dengan teknik sampling systematic random sampling. Jenis data menggunakan data sekunder dengan menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakanchy square. Hasil penelitian didapatkan uji statistik bivariat didapatkan ρ – value KEK = 0,013 dan OR = 2,289 dan ρ – value tinggi badan = 0, 002 dan OR = 2,76. Dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen berhubungan dengan kejadian stunting. Saran bagi ibu pendek dapat memberikan intervensi dengan suplemen makanan dan suplemen gizi seperti zat gizi makro dan zat gizi mikro yaitu kebutuhan energi, protein, lemak, dan zat gizi lainnya untuk pencegahan atau penanggulangan Stunting  sehingga faktor genetic dapat ditanggulangi dengan asupan gizi.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agustian, E. N. (2010). Hubungan antara asupan protein dengan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil di kecamatan Jebres Surakarta.

Al-Anshori, H., & Nuryanto, N. (2013). Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 12-24 bulan (Studi di Kecamatan Semarang Timur) (Doctoral dissertation, Diponegoro University).

Al-Anshori, H., & Nuryanto, N. (2013). Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 12-24 bulan (Studi di Kecamatan Semarang Timur) (Doctoral dissertation, Diponegoro University).

Almatsier, S. (2002). Prinsip dasar ilmu gizi.

Arisman, M. B. (2004). Gizi dalam daur kehidupan. Jakarta: EGC, 76-87.

Fajrina, N., & Utami, F. S. (2016). Hubungan Faktor Ibu dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Piyungan Kabupaten Bantul.

Ismawati, V., Kurniati, F. D., Suryati, E. O., & Oktavianto, E. (2021). Kejadian Stunting Pada Balita Dipengaruhi Oleh Riwayat Kurang Energi Kronik Pada Ibu Hamil. Syifa'Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 11(2), 126-138.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 tentang Standart Kualitas Air.Diakses 21 Desember 2019

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Buku Saku Pemantauan Status Gizi dan Indikator Kinerja Gizi Tahun 2015.Diakses 21 Desember 2019

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016).100 kabupaten/kota prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting).Jakarta: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016).Situasi balita pendek. Pusat Data dan Informasi

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018).Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia.Jakarta. Kemenkes RI Badan Pusat Statistik Indonesia. Jakarta.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018).Hasil utama riset kesehatan daerah 2018. Kementrian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.Jakarta.

Lamid, A. (2015). Masalah Kependekan (Stunting) pada Anak Balita: Analisis Prospek Penanggulangannya di Indonesia.

Nasikhah, R., & Margawati, A. (2012). Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24–36 bulan di Kecamatan Semarang Timur (Doctoral dissertation, Diponegoro University).

Notoatmodjo, S. (2012).Metodologi penelitian kesehatan (Cetakan VI).Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta.

Prabandari, Y., Hanim, D., Ar, R. C., & Indarto, D. (2016). Hubungan Kurang Energi Kronik dan Anemia pada Ibu Hamil dengan Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan di Kabupaten Boyolali (Correlation Chronic Energy Deficiency And Anemia During Pregnancy With Nutritional Status Of Infant 6–12 Months In Boyolali Regency). Nutrition and Food Research, 39(1), 1-8.

Supariasa, I. D., Bachyar, B., & Ibnu, F. (2012). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Jurnal Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Pra Sekolah di Paud Tunas Mulia Claket Kecamatan Pacet Mojokerto, 1(2), 69-76.

Unit Pelayanan Terpadu Puskesmas Kota Dalam. (2019). Data Stunting Wilayah Kerja UPT Puskesmas Kota Dalam

Winda, S. A. (2021). Tinggi Badan Ibu Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita: Literature Review. Jurnal ProNers, 6(1).

Downloads

Published

08.12.2021